STRES AKADEMIK

BAB II

PEMBAHASAN

A. Pengertian Stres Akademik

Stres merupakan suatu fenomena yang pernah atau akan dialami oleh seseorang dalam kehidupannya dan tidak seorang pun dapat terhindar dari padanya. Berdasarkan terminologinya, istilah stres berasal dari bahasa Latin “singere” yang berarti keras atau sempit (strictus). Istilah ini mengalami perubahan seiring dengan perkembangan penelaahan yang berlanjut dari waktu ke waktu dari straise, strest, stresce, dan stress. Menurut Santrock, stres merupakan respon individu terhadap keadaan atau kejadian yang memicu stres (stressor) yang mengancam dan mengganggu kemampuan seseorang untuk menanganinya (coping). Stres adalah realitas kehidupan setiap hari yang tidak dapat dihindari, disebabkan oleh perubahan yang memerlukan penyesuaian. Sarafino mendefinisikan stres sebagai kondisi yang disebabkan oleh interaksi antara individu dengan lingkungannya yang menimbulkan persepsi jarak antara tuntutan-tuntutan yang berasal dari situasi dengan sumber daya dari sistem-sistem biologis, psikologis dan sosial seseorang.

Kuliah adalah pengalaman yang penuh dengan stres atau tekanan.Stres akademik muncul ketika harapan untuk pencapaian prestasi akademik meningkat, baik dari orang tua, guru ataupun teman sebaya dan stress ini meningkat setiap tahunnya seiring dengan tuntutan terhadap anak yang berbakat dan berprestasi yang tidak pernah berhenti. Baumel dalam Wulandari (2011, 87) menyatakan bahwa stres akademik merupakan stres yang disebabkan oleh stressor akademik, yaitu yang bersumber dari proses belajar mengajar atau yang berhubungan dengan kegiatan belajar yang meliputi lama belajar, banyak tugas, birokrasi, mendapatkan beasiswa, keputusan menentukan jurusan, dan karir serta kecemasan ujian dan manajemen waktu.

Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa stres di bidang akademik adalah respon individu akibat kesenjangan antara tuntutan lingkungan terhadap prestasi akademik dengan kemampuan untuk mencapainya sehingga situasi tersebut mengakibatkan perubahan respon dalam diri individu tersebut, baik secara fisik maupun psikologis. Stres timbul ketika ada beban pada seseorang yang melebihi kemampuan mereka. Jika stress kasar dan diperpanjang, hal ini dapat menurunkan prestasi akademik, penghalang dari kemampuan siswa untuk melibatkan diri dan menyambung pada kehidupan kampus, dan kenaikan kemungkinan dari penyalahgunaan hakekat dan perilaku yang berpotensial destruktif lainnya.

B. Gejala-Gejala yang Timbul

Gejala-gejala yang biasanya timbul saat individu mengalami stres akademik meliputi:

  1. kehilangan energi,
  2. tekanan darah meningkat,
  3. suasana hati yang muram,
  4. peningkatan pada yang diidamkan,
  5. susah berkonsentrasi,
  6. tidak sabar,
  7. gerogi

C. Macam-Macam Stres Akademik

  1. Burn Out

Burnout menurut C. Maslach (dalam Maslach burnout Inventory, 1996) merupakan sindrom mengenai kelelahan emosional, tidak selera, dan menurunkan pencapaian prestasi individu yang dapat terjadi di antara individu yang bekerja dengan orang-orang yang besar jumlahnya. Aspek kunci dari sindrom burnout adalah meningkatnya perasaan kelelahan emosi, pengembangan rasa tidak selera, dan menurunnya pencapaian prestasi individu. Pines dan Aronson mendefinisikan burnout sebagai kondisi emosional seseorang, yang merasa lelah dan jenuh secara mental ataupun fisik sebagai akibat tuntutan pekerjaan yang meningkat. Burnout selalu mempunyai tiga komponen yaitu kelelahan fisik, kelelahan emosional, dan kelelahan mental.

Ada dua faktor yang menyebabkan munculnya burnout, yaitu faktor internal dan faktor eksternal.

  1. Faktor internal merupakan faktor dari dalam diri anak tersebut, yaitu kondisi fisik dan psikis yang lelah, tidak adanya motivasi untuk berprestasi, dan sebagainya.
  2. Faktor eksternal disebabkan oleh adanya pengaruh dari pihak luar anak, misal bosan dengan metode mengajar 3 guru dalam kelas, ketidakcocokan dengan teman, orangtua yang selalu menuntut lebih pada anak.

Adapun upaya yang dilakukan oleh sekolah untuk mengatasi Burnout dalam belajar, diantaranya:

  1. Mendorong guru untuk menggunakan strategi, pendekatan, metode dan media pembelajaran yang bervariasi sehingga tidak menimbulkan kejenuhan dalam belajar.
  2. Melakukan istirahat sejenak dan menganjurkan siswa untuk menkonsumsi makanan dan minuman yang bergizi dengan takaran cukup.
  3. Melakukan penjadwalan kembali jam-jam dari hari belajar yang dianggap lebih memungkinkan siswa belajar lebih giat.
  4. Mengubah atau penataan kembali lingkungan belajar siswa yang meliputi pengubahan posisi meja tulis, lemari, rak buku, alat-alat perlengkapan belajar dan sebagainya sampai memungkinkan siswa merasa berada disebuah kamar baru yang lebih menyenangkan untuk belajar.
  5. Memberikan motivasi dan stimulasi baru agar siswa merasa terdorong untuk belajar lebih giat dari pada sebelumnya.
  6. Siswa didorong untuk berbuat nyata (tak menyerah/ tinggal diam) dengan cara mencoba belajar dan belajar lagi.
  7. Menyampaikan informasi manfaat dari belajar.
  8. Menciptakan suasana belajar yang menyenangkan dan kreatif.
  9. Kecemasan Akademik

Situasi belajar yang menekan cenderung dapat menimbulkan kecemasan. Valiante dan Pajares menyatakan kecemasan akademis sebagai perasaan tegang dan ketakutan pada sesuatu yang akan terjadi, perasaan tersebut mengganggu dalam pelaksanaan tugas dan aktivitas yang beragam dalam situasi akademis. Otten menjelaskan bahwa kecemasan akademis mengacu pada terganggunya pola pemikiran dan respon fisik serta perilaku karena kemungkinan performa yang ditampilkan siswa tidak diterima secara baik ketika tugas-tugas akademis diberikan. Kecemasan menurut Spielberger (dalam buku Slameto, Belajar dan Faktor-Faktor yang Mempengaruhinya, 2003, 185) dapat dibedakan menjadi dua, yaitu kecemasan sebagai suatu sifat (trait anxiety) dan kecemasan sebagai suatu keadaan (state anxiety). Kecemasan sebagai suatu sifat adalah kecenderungan pada diri seseorang untuk merasa terancam oleh sejumlah kondisi yang sebenarnya tidak berbahaya. Sedangkan kecemasan sebagai suatu keadaan adalah suatu keadaan atau kondisi emosional sementara pada diri seseorang yang ditandai dengan perasaan tegang dan kekhawatiran yang dihayati secara sadar serta bersifat subjektif dan meningginya aktivitas system saraf otonom. Kecemasan akademik secara keseluruhan bukanlah hal buruk. Namun akan menjadi hal buruk ketika tingkat kecemasan sudah mencapai level tinggi dicampur dengan konsentrasi dan memori yang kritis untuk prestasi dan kesuksesan akademik dari hari ke hari, namun hal ini benar, ketika tanpa kecemasan, antusias dan motivasi untuk belajar menjadi kurang, seperti belajar saat ujian, mengerjaakan tugas setiap hari, dan membuat makalah penelitian.

Kecemasan akademik dapat terjadi karena beberapa faktor, di antaranya:

  1. Lingkungan sekolah

Tekanan dari lingkungan sekolah dapat membuat remaja menjadi stres. Stres yang berkaitan dengan sekolah salah satunya karena academic pressures (tekanan akademik). Tekanan akademik ini bersumber dari proses belajar mengajar atau hal-hal yang berhubungan dengan kegiatan belajar. Tekanan akademik yang biasanya dihadapi oleh peserta didik diantaranya: ujian, persaingan nilai, tuntutan waktu, guru, lingkungan kelas, karir, dan masa depan.

  1. Tuntutan/tekanan dari orang tua, guru atau teman.

Siswa dituntut agar dapat berprestasi di sekolah, misalnya mendapatkan nilai tinggi, menyelesaikan tugas dengan baik, dapat masuk perguruan tinggi favorit. Namun, jika hal ini tidak sesuai dengan kemampuan yang dimiliki siswa dapat membuat siswa menjadi stres.

  1. Pekerjaan rumah

Pekerjaan rumah yang terlalu banyak menyebabkan siswa tidak memiliki waktu yang cukup untuk belajar serta akan menambah beban pikiran tentang tugas-tugas di sekolah yang harus dikerjakan. Hal tersebut akan berdampak pada penurunan prestasi akademik siswa. Siswa akan merasa cemas memikirkan beban tugas di rumah maupun di sekolah yang harus dikerjakan.

Kecemasan akademik ini dapat ditangani dengan beberapa cara, di antaranya:

  1. Berfikir positif dan tetap tenang dalam menghadapi masalah. Hal yang paling mendasar adalah cara merespon kondisi yang sedang dipikirkan (akan terjadi) atau sedang benar-benar hadapi (sedang dialami).
  2. Berbaik sangka pada diri sendiri untuk menjadi motivasi diri pada lingkungan sosial maupun akademik.
  3. Memiliki keyakinan yang kuat akan adanya pertolongan tuhan untuk bisa melepaskan diri dari masalah.
  4. Bila berhubungan dengan orang lain, ubah paradigma/ pola pandang Anda, ganti dengan lebih baik. Ganti pola gambarnya dengan pola gambar lain yangsembuat anda senang.

Kecemasan akademik memiliki komponen-komponen yang dibagi menjadi 4 kelompok komponen, yaitu:

  1. Worry, Pikiran yang mencegah untuk fokus pada keberhasilan menyelesaikan tugas akademik. Misalnya, prediksi akan kegagalan, merendahkan diri, atau senang melakukan konsekuensi buruk.
  2. Emotionality, gejala kecemasan biologi. Misalnya, jantung berdetak cepat, berkeringat pada telapak tangan, ketegangan otot.
  3. Task generated interference, Perilaku yang berhubungan dengan tugas tetapi tidak maksimal dalam mengerjakan tugas.
  4. Study skills deficits, Masalah dengan metode belajar yang dapat menyebabkan kecemasan.
  5. Prokrastinasi

Pengertian Prokrastinasi berasal dari bahasa Latin procrastinare, dari kata pro yang artinya maju, ke depan, bergerak maju, dan crastinus yang berarti besok atau menjadi hari esok. Jadi, dari asal katanya prokrastinasi adalah menunda hingga hari esok atau lebih suka melakukan pekerjaannya besok. Orang yang melakukan prokrastinasi dapat disebut sebagai procrastinator.

Faktor yang mempengaruhi prokrastinasi akademik, di antaranya:

  1. Kondisi fisik individu. Faktor dari dalam yang turut mempengaruhi prokrastinasi pada individu adalah keadaan fisik dan kondisi kesehatan seseorang.
  2. Kondisi psikologis individu. Faktor eksternal, yaitu faktor-faktor yang terdapat diluar diri individu yang mempengaruhi prokrastinasi seperti gaya pengasuhan orang tua dan kondisi lingkungan.
  3. Problem time management. Kemampuan estimasi waktu yang buruk dapat dikatakan sebagai prokrastinasi jika tindakan itu dilakukan dengan sengaja.
  4. Penetapan prioritas agar kita bisa menangani semua masalah atau tugas secara runtut sesuai dengan kepentingannya.
  5. Karakteristik tugas karakter atau sifat tugas sekolah atau pelajaran yang akan diujikan
  6. Karakter individu orang yang cenderung menunda pekerjaan jika kurang percaya diri dalam melaksanakan pekerjaan tersebut ia takut terjadi kesalahan.
  7. Cara Preventif dan Kuratif
  8. Cara preventif stres akademik
  9. Istirahat dan olahraga secara teratur

Istirahat dan olahraga secara teratur adalah cara untuk mengatasi frustasi dan stress yang paling mudah dan praktis untuk dilakukan. Lakukanlah istirahat secukupnya secara teratur, karena dengan istirahat pikiran akan menjadi tenang dan terhindar dari stress.

 

  1. Rekreasi

Rekreasi adalah salah satu cara untuk mengatasi stress dan frustasi yang dialami mahasiswa. Dengan rekreasi pikiran, perasan akan menjadi tenang dan semua masalah akan hilang. Gunakanlah waktu minimal seminggu sekali untuk rekreasi.

  1. Teknik relaksasi

Teknik relaksasi dengan mengendurkan otot-otot seluruh tubuh, kemudian pengendoran dilakukan pada bagian-bagian tubuh yang sering mengalami stress. Semakin lama berlatih teknik relaksasi, orang akan semakin peka dan semakin spontan untuk dapat merasakan bagian tubuh yang mana yang terkena stress dan semakin mudah untuk mengembalikan pada keadaan semula.

  1. Meditasi

Suatu kegiatan untuk melatih konsentrasi menjadi lebih tajam dan pikiran menjadi lebih tenang. Lakukanlah kegiatan ini secara rutin, agar pikiran menjadi konsentrasi dan dapat mengilangkan stress dan frustasi pada mahasiswa.

  1. Mengubah sikap hidup yang negatif menjadi lebih positif.

Ketika menghadapi persoalan-persoalan tinggalkan prasangka yang mengecohkan. Semua prasangka itu pada dasarnya akan menyesatkan diri anda.Anggaplah masalah sebagai tantangan yang mesti anda hadapi bukan beban. Jangan menutup diri anda karena masalah, tapi berbuka lah terhadap teman -teman, keluarga anda. Jadi, jauhkan diri anda dari prasangka-prasangka, tetapi fokuskan diri anda pada masalah yang sesungguhnya.

  1. Cara kuratif stres akademik

Memulai berolahraga,  jalan-jalan  santai  di pertokoan  atau  ke  pantai,  rekreasi,  menonton film  kesukaan,  mendengarkan  musik, bercerita (sharing) dengan sahabat  atau  keluarga,  membantu  keluarga  atau  sahabat, menikmati hiburan  atau kegiatan  spontan  yang  seru  dan  menyenangkan.  Selain  itu,  dukungan  dan  kepercayaan  keluarga  maupun  sahabat  yang  begitu  besar  merupakan  energi  positif  sehingga  mampu  mengelola  stres  akademik  yang  begitu  berat dirasakan.

 

SUMBER:

Ifdil. 2012. Stres Akademik. Diakses secara online di http://konselingindonesia.com/index.php?option=com_content&task=view&id=379&Itemid=104. Pada hari Kamis, 19 November 2015. Pukul 16.13 WIB

Khairul Bariyyah. 2013. Stres Akademik. Diakses secara online di http://konselingkita.com/stres-akademik-2/. Pada hari Kamis, 19 November 2015. Pukul 16.45 WIB

Khairul Bariyyah. 2013. Diakses secara online di http://konselingkita.com/faktor-penyebab-stres-akademik-2/. Pada hari Kamis, 19 November 2015. Pukul 17.00 WIB

Z Amini.‎ 2010. Diakses secara Online http://digilib.uinsby.ac.id/8412/2/Bab2.pdf. Pada hari Kamis, 19 November 2015. Pukul 19.07 WIB.

Hj. Shofiyanti Nur Zuama. 2014. Jurnal: Kemampuan Mengelola Stres Akademik Pada Mahasiswa yang sedang Skripsi Angkatan 2009 Program Studi Pg Paud.Diakses secara online di http://download.portalgaruda.org/article.php?article=176186&val=6116&title=KEMAMPUAN%20MENGELOLA%20STRES%20AKADEMIK%20PADA%20MAHASISWA%20YANG%20SEDANG%20SKRIPSI%20ANGKATAN%202009%20PROGRAM%20STUDI%20PG%20PAUD.Pada hari Kamis, 19 November 2015. Pukul 18.10 WIB.

Mahato, Bhutnath & Jangir, Sunil. 2012. International Journal of Science and Research (IJSR): A Study on Academic Anxiety among Adolescents of Minicoy Island, India Online ISSN: 2319‐7064.  Vol. 1 Issue 3.

Hogan, R. Lance & McKnight, Mark A. 2010. Internet and Higher Education Journal: Exploring burnout among university online instructors: An initial investigation.  Elsevier ISSN: 1096-7516. Vol. 10 Num 2.

Lancy D’Souza. 2003. Influence of Shyness on Anxiety and Academic Achievement in High School Students. Maharaja’s College University of Mysore, Mysore, India: Department of Psychology.

Slameto. 2003. Belajar dan Faktor-Faktor yang Mempengaruhinya.  Jakarta: PT. Rineka Cipta.

Khan, Mussarat Jaben, dkk. 2013. FWU Journal of Social Sciences: Effect of Perceived Academic Stress on Students’ Performance. Vol. 7, No. 2, 146-151.

Hussain, Akbar, dkk.  2008. Journal of the Indian Academy of Applied Psychology: Academic Stress and Adjustment among High School Students.  Vol. 34, halaman 70-73.

Daniel, H.T. 2014. Ujian Nasional hanya Indonesia yang Bisa Begini. Diakses secara online di http://www.kompasiana.com/danielht/ujian-nasional-hanya-indonesia-yang-bisa-begini-tragis_54f74ca8a333117d2d8b4584. Pada hari Rabu, 26 November 2015. Pukul 08.07 WIB.

-. 2013. Tekanan Ujian Sebabkan Siswa Bunuh Diri di Korsel. Diakses secara onlinedihttp://www.bbc.com/indonesia/majalah/2013/08/130820_pendidikan_korea. Pada hari Rabu, 26 November 2015. Pukul 08.13 WIB.

http://i.milliyet.com.tr/YeniAnaResim/2014/01/31/fft99_mf4015587.Jpeg

0 thoughts on “STRES AKADEMIK”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

− 8 = 1